Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Kumpulan Cerita Pendek
Kisah-kisah hidup manusia
 

Hati-Hati Menerima Telepon dari Nomor Tak Dikenal

Cerita Pendek Gunawan Maryanto

Pastikan Anda Benar-Benar Tak Mengenalnya
Aku sama sekali tak menduganya. Bukannya aku sudah lupa dengan suaranya. Tapi aku memang benar-benar tak menduga bahwa yang meneleponku di siang hari itu adalah dia. Lagi pula aku sudah lama menghapus nomornya dari ponselku. Aku bahkan tidak tahu apakah itu nomor dia yang dulu atau nomor baru. Aku selalu lupa pada angka. Atau memang angka demikian mudah dilupakan.

"Hallo… Ini siapa, ya?" Jadi aku memang benar-benar bertanya. Bukan sedang berpura-pura untuk menggodanya.

"Alah, masa lupa, sih?" Aku jadi tak enak. Kau pun akan merasa demikian kan? Jika bertemu dengan seseorang yang seperti mengenalmu tapi kau sama sekali tak bisa mengingat, kapan dan di mana kalian pernah bertemu sebelumnya.

Aku berusaha keras mengingat. Sebenarnya bukan berkeras mengingat, tapi berusaha keras untuk meyakinkan diri. Suaranya, aku tak pangling lagi: Alina. Tapi benarkah dia? Aku tak segera bisa meyakinkan diriku. Ada urusan apa? Sedang aku sudah lama tak berurusan dengannya.

"Alin, ya?" Tebakku tak yakin. Sama sekali tak yakin.

"Ooo… Masih ingat, ta? Kirain udah lupa." Lalu ia tertawa. Ngakak. Tawa yang seharusnya segera bisa meyakinkanku bahwa yang sedang bicara di seberang sana itu adalah dia. Tapi bagaimana aku bisa meyakinkan diriku saat itu? Sudah lama ia tak ada lagi bagiku. Dan aku benar-benar sudah berhasil melupakannya. Kau mungkin tak akan mempercayai keberhasilanku yang satu ini: melupakan seseorang dengan sempurna. Tidak mudah, memang. Tapi nyatanya aku bisa. Aku bisa melupakan seluruh pertemuanku dengannya. Seluruh cintaku kepadanya. Seluruh wajahnya. Juga bau tubuhnya. Aku seperti bisa memotong satu kurun waktu dari hidupku yang bersinggungan dengannya. Dan membuangnya jauh-jauh dari hidup yang terus kujalani.

Tapi teleponnya siang hari bolong itu seperti mengejek keberhasilanku itu. Panas setahun hilang oleh hujan sehari kata orang lama. Tapi karena nila setitik rusak susu sebelanga lebih tepat bagiku. Karena teleponnya rusaklah keberhasilanku melupakannya. Sial! Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Jika kau gagal bukankah kau selalu mencari kambing hitam? Sialnya, tak ada kambing hitam yang tepat untuk kejadian yang kualami ini selain diriku sendiri. Aku mulai mencurigai diriku. Jangan-jangan aku tak pernah sekali pun melupakannya. Bahwa selama ini ia tetap ada tapi aku berpura-pura tak menyadarinya. Aku hanya sekadar menumpuki ingatanku tentangnya dengan beragam ingatan yang lain. Jadi, aslinya ia tetap ada. Tak kurang tak lebih. Ia tetap bersemayam dengan kuat dalam kepalaku. Diam. Seperti menunggu saat yang tepat buat membalas dendam. Dan saatnya telah tiba.

"Tentu saja aku masih ingat. Nggak mungkinlah aku bisa lupa sama kamu." Tentu saja tak kukatakan bahwa aku telah gagal melupakannya. "Apa kabar?"

"Baik. Kamu?"

"Baik. Mmm… Lagi di mana, Lin?" Semoga ia tak berada di tempat yang dekat. Jawablah dengan nama kota yang terjauh dari jangkauanku. Syukur-syukur nama sebuah kota asing. Mendadak aku mulai merasa ketakutan. Aku mulai terancam dengan kehadirannya kembali. Pelan-pelan aku mulai berjaga-jaga. Menjaga apa? Aku tak tahu. Menjaga diriku. Mungkin saja.

"Kampung. Aku balik kampung. Dah 5 tahun." Aku sedikit lega. Meski kampung yang dimaksudkannya itu cuma enam jam perjalanan darat saja dari tempatku. Setidaknya ia tak berada di kota yang sama denganku.

"Dapat kerja di situ?"

"Yup." Kelegaanku sedikit bertambah. Aku sedikit merasa nyaman bercakap dengannya.

"Gak sedang sibuk kan?" Sebenarnya aku ingin langsung menjawab, "Sibuk." Dan selesailah. Aku bisa kembali menyibukkan diriku untuk kembali melupakannya. Sialan! Tiba-tiba saja aku marah pada diriku sendiri. Marah dalam arti yang sebenar-benarnya. Jadi selama ini seluruh kerja yang kulakukan ini hanyalah sebuah usaha untuk melupakannya? Jadi selama ini diam-diam dialah yang menggerakkanku? Aku wayang dan dia dalang?!

Next