Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Kumpulan Cerita Pendek
Kisah-kisah hidup manusia
 

Panggil Aku Ayah

Cerita Pendek Ahmad Sudi

KURUN waktu yang sedemikian panjang bersama status bukan ayah membuat aku tak mudah percaya pada kenyataan besar yang telah berlaku atas diriku sendiri. Tangis bayi merah yang melengking tepat pukul 08.30 Senin lalu, tak serta merta meyakinkan diriku telah berubah status menjadi ayah. Aku memang belum sepenuhnya meyakini itu sebagai sebuah kepastian. Segalanya seolah berlaku sebatas angan, atau mimpi di tengah malam.

‘'Pak, sebaiknya perlengkapan bayinya dibawa ke mari saja,” ujar bidan yang baru saja keluar dari ruang tempat pemeriksaan istriku. ‘'Lho, apakah istri saya akan segera melahirkan, Bu Bidan?” tanyaku terkejut.

Selepas Subuh istriku mengeluhkan nyeri di perut bagian bawah. Aku lantas membawanya ke bidan untuk periksa. Sama sekali aku tak punya firasat nyeri itu pertanda waktu persalinan akan tiba. Meski usia kandungannya menjelang sembilan bulan, tetapi menurut perkiraan bidan pekan lalu, kelahiran bayi pertamaku berkemungkinan pada akhir bulan. Sementara sekarang baru pertengahan bulan.

‘'Sepertinya begitu. Sekarang sudah bukaan dua,” jelas bidan tersebut.

Aku sempat mengkerutkan kening mendengar kata “bukaan”, untung aku ingat penjelasan istri seorang teman bahwa sebelum proses persalinan akan dilalui dengan perkembangan kondisi rahim yang lazim disebut bukaan.

‘'Apakah kelahirannya normal, Bu?” Mendadak saja kecemasan sudah mengeram dalam pikiranku. Bayangan atas kemalangan yang menimpa istri temanku berapa lalu melindas rasa tentram hatiku. Sungguh selama sembilan bulan masa kehamilan istriku banyak ketakutan yang menghinggapi diriku. Terlebih lagi kehamilan istriku kali ini merupakan kesempatan ketiga, setelah dua kali kehamilan yang lalu tak berkembang sebagaimana mestinya. Istriku mengalami keguguran pada bulan kedua saat hamil pertama dan harus menjalani operasi pembersihan rahim akibat keguguran di usia kandungan lewat tiga bulan pada kehamilan kedua.

‘' Normal ,” jawaban bidan tersebut seolah hujan rintik di tengah musim kemarau panjang yang melanda perasaanku.

Seketika itu juga aku pamit dan bergegas pulang untuk mengambil segala perlengkapan bayi yang memang telah kami persiapkan jauh-jauh hari. Sepanjang perjalanan pulang-pergi dari rumah bersalin ke rumah, aku merasa sedang lalu-lalang dalam mimpi. Tak percaya bahwa sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Pukul tujuh lewat belasan menit derita istriku kian menjadi. Seringai di wajahnya kulihat bagai lautan rasa sakit yang tak mudah mengarunginya. Aku yakin dia pasti menderita. Dalam keadaan seperti ini aku hanya bisa memberinya dorongan semangat dengan menggenggam erat telapak tangannya. Mendekati pertengah pukul tujuh detik-detik paling menegangkan di sepanjang usiaku dimulai. Bidan memasuki ruang bersalin dan memerintahkan istriku bersiap memasuki tahapan terpenting dalam hidupnya: mengalami proses melahirkan, sebagai penyempurna diri sebagai wanita. Tak bisa aku menceritakan betapa menegangkan ruang berukuran empat kali empat meter itu selama kurang lebih limabelas menit di pagi Senin itu. Yang pasti aku menyaksikan derita tak terkira yang wajib dialami setiap wanita untuk bisa dipanggil ibu. Seluruh ketegangan itu berakhir kelegaan menentramkan ketika lengking tangis bayi merah menyeruak keheningan.

‘'Selamat, bayi Bapak laki-laki dan terlahir sehat lagi normal,” ucap bidan itu sambil tersenyum ke arahku.

Aku malah terpaku. Tak ada senyum, bahkan sekedar anggukan membalas ucapan selamat itu. Sepasang mataku tak berkedip memandang bayi merah yang tengah dimandikan bidan. Benarkah itu bayi yang baru terlahir dari rahim istriku? Benarkah itu bayi yang dalam tubuhnya mengalir darah dan dagingku? Ah, sungguhkan aku telah memasuki fase luar biasa dalam kehidupan seorang lelaki, yakni menjadi seorang ayah?

‘'Bapak tentu sudah tak tahan ingin segera menimang buah hati, ini bayinya. Silahkam, Pak,” tak sampai sepuluh menit kemudian bidan itu muncul seraya menyerahkan bayi mungil berbungkus baju dan kain bedung biru motif bunga-bunga kecil.

Aku terpana. Inilah moment paling besar dalam hidupku: menimang darah-dagingku sendiri! Tanpa berkedip aku memperhatikan wajah mungil dalam dekapan. Wajah itu begitu teduh. Sepasang matanya masih terkatup rapat. Hidungnya yang kecil mencuat di atas bibirnya yang juga terkatup rapat-rapat. Lantas aku ingat kuwajiban setiap ayah pada bayinya yang baru lahir. Maka, dengan suara tergetar kukumandangkan azan di telinga kanannya dan iqomah di telinga kiri. Aku berharap kalimat agung yang pertama kali didengarnya menjadi pedoman mula baginya untuk menentukan langkah ke depan. Usai mengumandangkan azan dan iqomah di kedua telinganya, aku lantas mencium kening bayiku dengan sepenuh hati. Jangan ditanya bagaimana perasaanku ketika itu. Setiap ayah pasti pernah mengalami masa teramat istemewa seperti itu. Sepanjang siang itu aku seolah tak mau menjauh dari bayi mungilku. Jika tidak sedang kugendong, tentu perhatianku tak luput dari bayiku. Setiap gerak dan tarikan nafasnya menjadi sedemikian istimewa di mataku. Aku seolah baru pertama kali melihat bayi.

Next